Internasional

Biaya Lintas Selat Hormuz: Strategi Iran atau Pemicu Krisis Global Baru?

Iran berencana kenakan tarif tol hingga USD 2 juta di Selat Hormuz. Bagaimana dampaknya bagi perdagangan global dan harga minyak dunia? Simak analisisnya.

Penulis:adit
29 Maret 2026
Biaya Lintas Selat Hormuz: Strategi Iran atau Pemicu Krisis Global Baru?

Bayangkan sebuah jalan tol yang menguasai sepertiga pasokan minyak dunia. Sekarang, bayangkan pemilik jalan itu tiba-tiba memasang gerbang dan meminta bayaran fantastis untuk setiap kendaraan yang lewat. Itulah gambaran sederhana dari situasi yang sedang terjadi di Selat Hormuz, jalur air sempit yang menjadi urat nadi energi global. Bukan lagi sekadar isu geopolitik, ini sudah menyentuh kantong kita semua.

Sejak konflik di kawasan itu memanas, Selat Hormuz yang biasanya ramai oleh lalu lintas kapal tanker, kini lebih mirip zona perang yang sepi. Iran, yang menguasai sebagian besar perairan itu, sedang menyiapkan aturan baru yang bakal mengubah peta perdagangan energi selamanya. Mereka berencana memungut biaya layaknya tol—dengan angka yang bikin mata berkedip: hingga 2 juta dolar AS per kapal!

Dari Kontrol Informal ke Legalitas Hukum

Yang menarik, sebenarnya praktik pemungutan biaya ini sudah berjalan secara tidak resmi selama beberapa minggu terakhir. Beberapa perusahaan pelayaran melaporkan diminta membayar sejumlah uang melalui perantara untuk mendapatkan 'jaminan keamanan'. Sekarang, parlemen Iran ingin mengangkatnya menjadi undang-undang resmi. Ini bukan sekadar soal uang, tapi pengakuan hukum atas klaim kedaulatan mereka di selat tersebut.

Menurut data yang saya telusuri dari beberapa sumber industri maritim, hanya kapal-kapal dengan hubungan khusus dengan Iran atau Tiongkok yang masih bisa melintas dengan relatif lancar. Sisanya? Terjebak di Teluk Persia atau harus mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Sebuah kapal tanker VLCC (Very Large Crude Carrier) yang biasanya mengangkut 2 juta barel minyak, kini harus mempertimbangkan apakah membayar 'tol' sebesar itu masih masuk akal secara ekonomi.

Dilema Perusahaan Pelayaran: Bayar atau Menghadapi Risiko

Di sini muncul dilema yang pelik. Para pemilik kapal terjepit antara dua pilihan buruk. Di satu sisi, mereka harus menyelamatkan awak kapal dan kargo bernilai miliaran yang terjebak. Di sisi lain, membayar 'tol' kepada Iran bisa membuat mereka berhadapan dengan sanksi internasional dan risiko reputasi. "Ini seperti diminta memilih antara tertembak atau melanggar hukum," ujar seorang analis maritim yang enggan disebutkan namanya.

Amanda Bjorn dari Cambiaso Risso Asia menyoroti poin penting: kepercayaan. "Bisakah kita mempercayai Iran akan memberikan keamanan yang dijanjikan setelah kita bayar? Dan bagaimana dengan jaminan bahwa besok harganya tidak naik lagi?" Pertanyaan-pertanyaan ini menggambarkan ketidakpastian yang menghantui industri pelayaran global.

Efek Domino ke Pasar Energi Global

Dampaknya sudah terasa di pasar minyak dunia. Harga Brent sempat menyentuh level USD 114 per barel awal minggu ini—level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjang. Beberapa produsen minyak di Teluk terpaksa menghentikan produksi karena tidak bisa mengekspor. Kilang-kilang di kawasan itu juga mengalami kerusakan akibat konflik.

Menurut analisis saya, jika situasi ini berlanjut, kita bisa melihat perubahan permanen dalam rute perdagangan minyak. Beberapa negara mungkin akan lebih mengandalkan pipa minyak darat atau meningkatkan impor dari produsen di luar kawasan Teluk. Rusia dan Amerika Serikat, sebagai produsen minyak besar, mungkin akan mendapat keuntungan dari situasi ini. Tapi bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, ini adalah mimpi buruk.

Perspektif Hukum Internasional yang Terabaikan

Ada satu aspek yang sering terlupakan dalam pembahasan ini: hukum internasional. Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) menjamin kebebasan navigasi di selat-selat internasional seperti Hormuz. Tindakan sepihak Iran jelas melanggar prinsip ini. Tapi dalam praktiknya, ketika satu negara memiliki kontrol fisik atas suatu wilayah, hukum internasional sering kali tak berdaya.

Saya melihat ini sebagai ujian bagi tatanan hukum internasional. Jika Iran berhasil memungut tol tanpa konsekuensi serius, negara-negara lain yang menguasai selat strategis mungkin akan melakukan hal sama. Bayangkan jika Turki menutup Bosporus atau Mesir menutup Terusan Suez dengan alasan yang sama. Dunia akan kembali ke era di mana negara kuat bisa memeras negara lain dengan mengontrol jalur perdagangan.

Opini: Lebih dari Sekadar Isu Ekonomi

Dari sudut pandang saya, isu ini sebenarnya lebih dalam dari sekadar tarif 2 juta dolar. Ini tentang pergeseran kekuatan geopolitik. Iran sedang menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan dalam konflik yang lebih besar. Setiap dolar yang dibayar perusahaan pelayaran tidak hanya mengisi kas Iran, tapi juga memperkuat posisi tawar mereka di meja perundingan internasional.

Data menarik yang patut diperhatikan: sebelum konflik, sekitar 20-30 kapal tanker melintasi Selat Hormuz setiap hari. Sekarang, angkanya turun drastis menjadi hanya 2-3 kapal per hari, dan itupun kebanyakan kapal dengan bendera tertentu. Penurunan 90% dalam volume perdagangan ini menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasokan energi global kita.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Lalu, bagaimana ke depannya? Saya memprediksi beberapa skenario. Pertama, komunitas internasional mungkin akan membentuk konvoi pengawalan seperti yang pernah dilakukan di Teluk Aden untuk menghadapi perompakan. Kedua, tekanan diplomatik intensif akan dilakukan, mungkin dengan melibatkan kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Ketiga—dan ini yang paling mungkin—akan terjadi negosiasi terselubung di balik layar dimana perusahaan asuransi maritim menjadi perantara.

Yang jelas, konsumen akhir di seluruh dunia akan menanggung konsekuensinya. Kenaikan harga minyak berarti kenaikan harga transportasi, listrik, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Efek inflasinya bisa bertahan lama, bahkan setelah konflik selesai sekalipun.

Pada akhirnya, kisah Selat Hormuz ini mengajarkan kita satu pelajaran penting: dalam dunia yang saling terhubung, konflik di satu titik bisa mengguncang seluruh sistem. Tarif 2 juta dolar itu mungkin hanya angka di atas kertas, tapi riaknya menyebar ke seluruh lautan ekonomi global. Sebelum kita menyadarinya, gelombangnya sudah sampai ke pantai rumah kita sendiri—dalam bentuk harga BBM yang naik atau biaya hidup yang melambung.

Mungkin inilah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: seberapa siapkah kita menghadapi dunia di mana jalur perdagangan tidak lagi bebas? Dan lebih penting lagi, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi ketergantungan pada titik-titik rapuh seperti Selat Hormuz? Karena kadang, kedaulatan energi yang sesungguhnya dimulai dari pilihan-pilihan kecil kita sehari-hari.

Dipublikasikan: 29 Maret 2026, 12:18