Lebaran di Terminal: Kisah Haru Driver Ojol yang Akhirnya Bisa Pulang Kampung Gratis
Program mudik gratis Gojek bukan sekadar fasilitas, tapi jawaban atas kerinduan para driver yang bertahun tak pulang. Simak kisah lengkapnya di sini.

Bayangkan, setiap hari Anda mengantar ratusan orang pulang ke rumah mereka, sementara Anda sendiri belum tentu punya kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Itulah realitas yang dihadapi banyak mitra driver ojek online. Di tengah euforia mudik Lebaran yang selalu memadati jalanan, ada cerita-cerita sunyi tentang mereka yang terpaksa menahan rindu karena keterbatasan biaya. Nah, tahun ini, ada secercah harapan yang datang bagi ribuan driver tersebut.
Program GoMudik dari GoTo Gojek Tokopedia bukan cuma soal tiket bus gratis. Ini tentang memulihkan hak untuk berkumpul, tentang mempertemukan kakek-nenek dengan cucu yang belum pernah mereka peluk, dan tentang mengembalikan senyum di wajah para pahlawan jalanan yang selama ini setia mengantar kita. Mari kita telusuri lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik program yang menyentuh hati ini.
Lebih Dari Sekadar Angkutan: Makna di Balik Program Mudik Gratis
Kalau kita lihat sekilas, program ini mengangkut sekitar 4.000 orang—terdiri dari driver dan keluarganya—dalam dua gelombang dari Terminal Pulogebang. Tapi, angka itu jadi tidak berarti jika kita tidak mendengar cerita di baliknya. Bagi perusahaan, ini mungkin bagian dari tanggung jawab sosial. Tapi bagi para driver seperti Afri, ini adalah berkah yang menuntaskan kerinduan bertahun-tahun.
Afri, salah satu peserta, mengaku terakhir mudik di tahun 2022. "Saya nggak ada ongkosnya waktu itu," katanya dengan polos. Kalimat sederhana itu sebenarnya menggambarkan sebuah masalah struktural yang jarang kita bahas: meski menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan, kestabilan finansial banyak driver ojol masih sangat rapuh. Biaya hidup di kota besar sering kali menyisakan sangat sedikit untuk ongkos mudik yang mahal di musim Lebaran.
Dampak Sosial yang Jarang Terlihat
Yang menarik dari program ini adalah efek berantainya. Ini bukan cuma memindahkan orang dari titik A ke titik B. Coba kita pikirkan: ketika seorang driver bisa pulang kampung, dia membawa oleh-oleh, cerita, dan kebahagiaan yang akan dibagikan ke seluruh keluarganya di desa. Afri bercerita bahwa orang tuanya bahkan belum pernah bertemu cucu-cucunya secara langsung. Bayangkan momen pertemuan pertama itu—air mata kebahagiaan yang mungkin sudah menunggu selama bertahun-tahun.
Dari sisi logistik, program ini juga punya nilai strategis. Dengan mengorganisir keberangkatan ribuan orang melalui terminal yang terdata, beban lalu lintas di jalan raya bisa sedikit berkurang. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sendiri menyambut baik inisiatif ini karena sejalan dengan upaya penataan arus mudik yang lebih aman dan terkelola. Tapi, menurut saya pribadi, nilai kemanusiaannya jauh lebih besar daripada nilai logistiknya.
Opini: Perlukah Program Seperti Ini Jadi Standar Industri?
Di sini saya ingin menyisipkan pendapat pribadi. Program GoMudik ini patut diapresiasi, tapi juga membuat kita berpikir: apakah fasilitas mudik gratis seharusnya menjadi bagian dari paket kesejahteraan standar untuk mitra driver platform digital? Mengingat kontribusi mereka yang sangat besar bagi perekonomian dan mobilitas kota, rasanya wajar jika kita mempertimbangkan hal ini.
Data dari Asosiasi Pengusaha Online Indonesia (APOI) menunjukkan bahwa ada lebih dari 4 juta driver ojol aktif di Indonesia. Jika hanya 4.000 yang mendapat fasilitas mudik gratis, artinya baru 0.1% yang terjangkau. Tentu kita tidak bisa mengharapkan perusahaan menanggung semua biaya, tapi mungkin bisa dikembangkan model kemitraan dengan pemerintah atau swasta lainnya untuk memperluas jangkauan program serupa.
Antusiasme yang Terlihat Nyata di Terminal
Suasana di Terminal Terpadu Pulogebang pagi itu digambarkan penuh dengan antusiasme. Bukan antusiasme biasa, tapi antusiasme yang dibumbui dengan haru. Banyak driver yang datang lebih awal, membawa koper dan kardus berisi oleh-oleh. Beberapa terlihat memeriksa tiket berulang kali, seolah tak percaya bahwa akhirnya mereka bisa pulang tanpa harus memikirkan biaya.
"Istri saya senangnya luar biasa," kata Afri, menceritakan reaksi keluarganya. Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan betapa program ini menyentuh langsung kehidupan keluarga. Bagi istri dan anak-anak yang mungkin sudah bertahun-tahun hanya mendengar cerita tentang kampung halaman dari telepon, akhirnya mereka bisa mengalami sendiri suasana Lebaran di tengah keluarga besar.
Refleksi Akhir: Mudik Sebagai Hak, Bukan Privilege
Setelah menyimak kisah ini, saya jadi berpikir: mudik seharusnya menjadi hak, bukan privilege. Hak setiap orang untuk kembali ke akarnya, untuk merajut kembali ikatan keluarga yang mungkin renggang karena jarak dan waktu. Program seperti GoMudik adalah langkah awal yang baik, tapi kita perlu memikirkan bagaimana membuat lebih banyak driver dan pekerja gigi lainnya bisa menikmati hak tersebut.
Mungkin kita bisa mulai dengan kesadaran sederhana: lain kali kita memesan ojek online, ingatlah bahwa di balik helm dan jaket itu ada seorang manusia dengan cerita, dengan keluarga, dan dengan kerinduan yang sama seperti kita. Program mudik gratis ini mengingatkan kita pada kemanusiaan yang sering terlupa dalam transaksi digital sehari-hari. Bagaimana menurut Anda? Apakah ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendukung kesejahteraan para pahlawan mobilitas kita ini?