Peristiwa

Monas dan GI: Saatnya Jakarta Menyelesaikan Masalah Parkir Liar yang Tak Kunjung Usai

Gubernur Pramono Anung mendorong penertiban total parkir liar di Monas dan GI. Artikel ini mengulas dampaknya bagi warga dan solusi jangka panjang yang diperlukan.

Penulis:adit
29 Maret 2026
Monas dan GI: Saatnya Jakarta Menyelesaikan Masalah Parkir Liar yang Tak Kunjung Usai

Jakarta dan Dilema Parkir Liar yang Tak Pernah Usai

Bayangkan Anda sedang bersiap untuk hari libur di Monas bersama keluarga. Setelah berjuang dengan kemacetan, Anda akhirnya tiba. Namun, alih-alih menemukan ketenangan, Anda justru disambut oleh kerumunan juru parkir liar yang menawarkan—atau lebih tepatnya, meminta—jasa parkir di tempat yang sebenarnya bukan area resmi. Situasi ini bukan lagi sekadar cerita, tapi pengalaman nyata yang dialami ribuan warga Jakarta setiap minggunya. Baru-baru ini, masalah klasik ini kembali memanas setelah viralnya aksi pengempesan ban mobil di sekitar Monas, yang memaksa pemerintah daerah untuk kembali mengambil sikap tegas.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara terbuka telah memerintahkan Dinas Perhubungan untuk tidak lagi bermain-main dalam menangani fenomena parkir liar ini. Permintaannya jelas: penertiban harus dilakukan tanpa kompromi dan berkelanjutan, terutama di kawasan strategis seperti Monas dan belakang Grand Indonesia (GI). Ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah serius ingin mengubah wajah ibukota, dimulai dari hal mendasar seperti ketertiban parkir.

Dari Viral ke Tindakan Nyata: Kronologi yang Memicu Perubahan

Pemicu utama gelombang penertiban kali ini berasal dari sebuah video yang beredar luas di media sosial. Video tersebut menunjukkan keluhan sejumlah pengendara yang ban mobilnya dikempeskan karena parkir di bahu jalan di sekitar Monas. Yang menarik perhatian publik adalah ketidakseimbangan dalam penindakan: sementara pengendara dihukum, para juru parkir liar yang seharusnya juga menjadi sasaran penertiban justru terlihat bebas berkeliaran. Ironi inilah yang kemudian memantik respons langsung dari Gubernur Pramono.

Dalam pernyataannya di Balai Kota, Pramono menegaskan bahwa penertiban tidak boleh dilakukan setengah-setengah. "Saya minta untuk tetap dilanjutkan dan diambil tindakan tegas karena kami meminta agar Jakarta memberikan ketertiban untuk itu," ujarnya, seperti dikutip dari Antara pada Rabu, 25 Maret 2026. Bahkan, untuk memastikan instruksinya dijalankan, Gubernur mengaku telah menelepon langsung Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, guna memastikan operasi penertiban di belakang GI—yang sebelumnya sudah dibersihkan—tetap berjalan konsisten dan tidak surut.

Mengapa Masalah Parkir Liar di Monas dan GI Begitu Sulit Diberantas?

Sebagai seseorang yang sering melintasi kawasan ini, saya melihat akar masalahnya lebih kompleks dari sekadar ketidakdisiplinan. Kawasan Monas dan GI adalah pusat gravitasi aktivitas di Jakarta. Daya tariknya yang masif tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan parkir yang memadai dan terjangkau. Menurut data tidak resmi dari komunitas pengendara, kapasitas parkir resmi di sekitar Monas hanya mampu menampung kurang dari 40% kendaraan yang datang pada akhir pekan. Kesenjangan inilah yang dimanfaatkan oleh oknum untuk menawarkan "solusi" parkir liar dengan tarif yang seringkali semena-mena.

Kepala Dishub DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengonfirmasi bahwa pengempesan ban adalah bagian dari upaya penertiban. "Dilakukan agar warga tidak parkir sembarangan. Kami sudah melakukan sosialisasi dan mengimbau warga untuk tidak parkir di badan jalan," jelasnya. Petugas terus mengarahkan pengendara ke tempat parkir yang lebih layak, seperti IRTI Monas, Gambir, atau Lapangan Banteng. Namun, pertanyaannya adalah: apakah solusi ini cukup? Atau kita hanya memindahkan masalah dari satu titik ke titik lainnya?

Opini: Penertiban Harus Dibarengi dengan Solusi Nyata bagi Masyarakat

Di sini, saya ingin menyampaikan pandangan pribadi. Tindakan tegas terhadap parkir liar memang diperlukan untuk menegakkan aturan dan ketertiban. Namun, jika hanya berfokus pada penindakan tanpa menyediakan alternatif yang manusiawi, siklus ini akan terus berulang. Para juru parkir liar seringkali adalah warga yang mencari nafkah di tengah keterbatasan ekonomi. Menertibkan mereka tanpa memberikan pelatihan atau penyaluran ke sektor formal hanya akan memindahkan masalah sosial ke tempat lain.

Jakarta memerlukan pendekatan yang lebih holistik. Pertama, pemerintah perlu memperbanyak dan mengelola fasilitas parkir vertikal atau bawah tanah dengan tarif yang terjangkau. Kedua, integrasi moda transportasi umum menuju kawasan Monas dan GI harus ditingkatkan agar orang lebih memilih naik bus transjakarta atau MRT daripada membawa kendaraan pribadi. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa peningkatan kualitas transportasi umum dapat mengurangi kepadatan kendaraan pribadi hingga 25% di kawasan pusat kota. Ketiga, perlu ada program sosialisasi masif yang tidak hanya menyasar pengendara, tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga ketertiban.

Refleksi Akhir: Ketertiban Dimulai dari Komitmen Bersama

Inisiatif Gubernur Pramono untuk menertibkan parkir liar di Monas dan GI patut diapresiasi. Ini adalah langkah berani yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menata ibukota. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya bergantung pada ketegasan aparat, tetapi juga pada kesadaran kolektif kita sebagai warga Jakarta. Setiap kali kita memilih untuk parkir di tempat yang tidak semestinya atau "menyerah" membayar pada juru parkir liar, kita secara tidak langsung turut melanggengkan sistem yang tidak tertib.

Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik. Ketertiban lalu lintas dan parkir bukanlah tujuan akhir, melainkan cerminan dari tata kelola kota yang baik dan budaya masyarakat yang tertib. Apakah Jakarta siap untuk perubahan ini? Jawabannya ada di tangan kita semua—pemerintah yang konsisten menegakkan aturan, dan masyarakat yang mulai membiasakan diri mematuhi aturan tersebut. Bagaimana pendapat Anda? Sudahkah Anda merasakan dampak dari penertiban ini, atau justru memiliki solusi lain untuk masalah parkir di ibukota? Bagikan pengalaman Anda, karena perubahan besar seringkali dimulai dari percakapan kecil seperti ini.

Dipublikasikan: 29 Maret 2026, 13:48
Monas dan GI: Saatnya Jakarta Menyelesaikan Masalah Parkir Liar yang Tak Kunjung Usai