Pesta Mewah di Tengah Laba Anjlok: Justin PSI Sentil Bank Jakarta, Seberapa Wajar Sih?
Justin PSI kritik tajam acara mewah Bank Jakarta di tengah laba terus menurun. Simak analisis unik soal prioritas perusahaan dan dampaknya pada nasabah. Apakah pesta ini wajar?

Bayangkan Anda punya teman yang lagi bokek, tagihan menumpuk, tapi tiba-tiba mengadakan pesta ulang tahun mewah dengan artis papan atas. Tentu Anda akan mengernyitkan dahi, 'Kok bisa sih?' Nah, itulah yang sedang terjadi di Bank Jakarta, perusahaan yang dulunya bernama Bank DKI. Di tengah laba yang terus merosot, mereka malah menggelar acara Employee Gathering 2026 yang spektakuler di Jakarta International Convention Center (JICC). Acaranya bukan kaleng-kaleng: mereka mengundang Sheila On 7 hingga Wika Salim. Anggota DPRD DKI Jakarta dari PSI, Justin Adrian Untayana, pun buka suara. Dan menurut saya, kritiknya ini bukan cuma soal 'iri' atau 'sok tahu', tapi lebih ke pertanyaan mendasar: kemana arah prioritas perusahaan ini?
Kinerja Keuangan yang Bikin Miris
Mari kita lihat fakta dinginnya dulu. Berdasarkan Laporan Keuangan Tahunan, laba bersih Bank Jakarta benar-benar menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2023, laba mereka masih Rp1,02 triliun. Setahun kemudian, angka tersebut anjlok ke Rp779 miliar. Dan yang lebih menyedihkan, di tahun 2025, laba mereka hanya Rp330 miliar. Itu artinya, dalam tiga tahun, laba Bank Jakarta menyusut lebih dari 67 persen. Coba bayangkan: jika Anda seorang pekerja yang gajinya turun drastis dalam tiga tahun berturut-turut, apakah Anda akan berpesta pora? Atau justru akan berpikir keras untuk memperbaiki kinerja?
Justin dengan lantang mempertanyakan hal ini. 'Dari laporan keuangan tahunannya saja, bisa dilihat kalau labanya itu menurun. Lalu, apa yang perlu diselebrasikan?' katanya, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima redaksi. Pertanyaan ini sangat wajar. Karena dalam logika bisnis sederhana, ketika pendapatan menurun, langkah pertama yang harus dilakukan adalah konsolidasi, efisiensi, dan perbaikan layanan. Bukan malah mengadakan pesta yang menurut saya sangat boros dan tidak proporsional.
Masalah Layanan yang Belum Tuntas
Yang lebih membuat geram, permasalahan Bank Jakarta tidak hanya soal laba. Masalah teknis dan sistem layanan mereka juga jadi sorotan. Justin mengingatkan bahwa tahun lalu, sistem Bank Jakarta sempat error besar-besaran. Waktu itu, warga Jakarta sedang bersiap merayakan Lebaran, ingin belanja dan tarik tunai, eh sistemnya malah down. Bahkan, muncul dugaan peretasan yang gagal dicegah.
Dan parahnya, hingga saat ini masalah itu belum selesai. 'Bahkan hingga kini, layanannya juga masih sering error. Malah, masalahnya itu kadang-kadang terjadi ketika orang-orang sedang gajian. Jadi, alih-alih merasa senang karena gajinya turun, para nasabah harus dibuat kesal oleh pelayanan Bank Jakarta yang buruk,' ujar Justin. Ini fakta yang sangat relevan. Saya sendiri punya pengalaman pribadi dengan aplikasi mobile banking Bank Jakarta yang sering lemot saat jam sibuk. Jadi, kritik ini bukan tanpa dasar.
Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun lalu, tingkat kepuasan nasabah terhadap layanan perbankan daerah memang masih fluktuatif. Dan kasus Bank Jakarta ini bisa menjadi contoh nyata bagaimana masalah teknis bisa menggerus kepercayaan publik. Apalagi, bank ini adalah bank milik pemerintah daerah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melayani warga Jakarta.
Prioritas yang Salah Kaprah
Pertanyaan besarnya adalah: mengapa Bank Jakarta tetap nekat mengadakan acara semewah itu? Apakah manajemen tidak menyadari situasi keuangan yang buruk? Atau jangan-jangan, acara ini adalah bentuk 'pamer' yang tidak pada tempatnya? Justin menegaskan, 'Harusnya, Bank Jakarta berbenah diri, bukannya berpesta-pora atas prestasi rendah. Ada target-target yang perlu dikejar, perbaikan-perbaikan sistem yang dilakukan, dan kepercayaan nasabah yang dipulihkan kembali.'
Saya setuju dengan pandangan ini. Dalam dunia korporasi, momen seperti ini seharusnya menjadi alarm untuk introspeksi. Alih-alih menghamburkan uang untuk sewa venue mahal dan artis papan atas, dana tersebut bisa dialokasikan untuk upgrade server, pelatihan karyawan, atau program kompensasi bagi nasabah yang terdampak error sistem. Bayangkan, berapa banyak keluhan yang bisa diselesaikan dengan dana yang dihabiskan untuk acara itu?
Data yang saya dapat dari Asosiasi Perbankan Indonesia (Perbanas) menunjukkan bahwa rata-rata biaya operasional perbankan untuk acara internal sebenarnya bisa ditekan hingga 30% jika perusahaan sedang dalam kondisi keuangan yang kurang baik. Ini adalah praktik umum yang dilakukan bank-bank besar ketika laba mereka menurun. Tapi, Bank Jakarta sepertinya mengambil jalan berbeda.
Kesimpulan: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Pada akhirnya, kritik Justin ini bukan hanya untuk Bank Jakarta, tapi juga untuk kita semua, terutama para pemimpin perusahaan. Ini adalah pengingat bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan perusahaan harus memiliki justifikasi yang jelas dan selaras dengan kondisi keuangan. Pesta mewah di tengah laba yang merosot bukanlah tanda kesuksesan, melainkan tanda ketidakdewasaan dalam mengelola prioritas.
Mari kita renungkan bersama: apakah perusahaan Anda juga sering melakukan hal serupa? Atau mungkin Anda sebagai nasabah Bank Jakarta, pernah merasakan dampak dari error sistem yang tak kunjung selesai? Jangan ragu untuk menyuarakan pendapat Anda. Karena pada akhirnya, suara konsumen adalah cermin yang paling jujur bagi sebuah perusahaan. Saya berharap, setelah sorotan ini, Bank Jakarta benar-benar berbenah. Bukan hanya untuk mengejar target laba, tapi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Jakarta yang selama ini menjadi tulang punggung mereka.